Otak itu seperti ruang bagi anak kecil yang sedang bereksperimen
dengan dinosaurus hijaunya, agar dapat meletakkannya pada sekat dekorasi di
dinding kamar bermain. Ia mengikatkan dinosaurus itu melalui tali kecil penarik
ulur truk angkut mainan, agar dinosaurus dapat mencapai sekat itu.
Ruang itu awalnya kosong, tetapi ruang itu kemudian dibongkar,
seperti anak kecil yang bertanya: bi, itu siapa? | Itu teman bapak, dek. | Ngapain
disini? | Tadi bapak habis olahraga sama dia. | Kok dia nggak sama anaknya, bi?
| Bibi nggak tahu, dek. | Kumisnya kok lucu? | …………… Anak kecil tak akan lelah menguak.
Katanya, otak harus diberantakkan. Katanya, Otak itu lahan
bermain.
***
Sekiranya, perbincangan dengan Aditya Novali, seorang
seniman multi dimensi Indonesia yang beberapa bulan saya temui itu berhasil
membuka langit pikiran saya. Ia adalah seorang seniman yang sempat saya anggap
enteng, tetapi siang itu mengubah segalanya. Saya menemuinya
untuk keperluan sebuah bahan tulisan. Aditya awalnya seorang arsitek. Kemudian ia
melanjutkan pendidikan Conceptual Design di Design Academy Eindhoven, Belanda.
Ia menceritakan kisah-kisah yang terdengar ringan, tapi
bermakna dalam. Kematangannya membuat saya berpikir mengenai lingkungan tempat
ia belajar. Iapun menodong otak saya untuk membahas pendidikan di Indonesia dan
Belanda. Sebagai lulusan universitas yang disebut-sebut sebagai best design academy in the world, ia menceritakan
pelajar Belanda (bukan karena perintah) secara berkala akan ‘mengobrak-abrik’ otaknya
sendiri.
Saya teringat saat berkuliah di Surabaya, bagaimana teori desain yang begitu rumit diwajibkan untuk dihafal. Perintah
yang kaku, literatur cepat saji. Otak seakan dijajah. Disaat pengajar Belanda
meruntuhkan pembatas untuk berada pada ‘strata’ yang sama dengan pelajar. Bertukar
pikiran bersama, interupsi yang ‘halal’ hingga pengajar yang humble untuk mengakui ketidaktahuannya
atas jawaban dari pertanyaan pelajar yang terlampau kritis.
Ia menambahkan, bermain-main pada ruang otak itu, juga tidak
menuntut kita untuk mengembalikannya seperti semula. Chaotic has the own beauty if you come
across, they said.
Saya mengerti, mungkin ini juga yang mengantarkan StudioJob, duo desainer asal Belanda Job Smeets dan Nynke Tyagel lulusan dari Design Academy Eindhoven kerap memecah
keheningan dunia desain. Sebagai seorang yang bergelut dalam dunia seni dan
desain, saya (dan mungkin Anda) tidaklah asing dengan karyanya. Hampir setiap objek
yang lahir merupakan ikon atau arketipe sederhana, namun memecah logika teori
desain kontemporer.
Kiri ke kanan: Pouring Jug, Studio Job. Aplikasi grafis simbol industri dari Studio Job pada catwalk Victor & Rolf Fall/Winter 2010.
Salah satu meja karya Studio Job.
Pelaku desain lain asal Belanda yang telah berhasil,
sebut saja fashion brand dunia Viktor & Rolf, MarcelWanders –Creative Director MOOOI, Tord Boontje, Maarten Baas dan banyak lainnya, adalah jajaran desainer
eksperimental yang memiliki dunia ‘gila’nya dan tak takut untuk menuturkan ide.
Karya-karya mereka telah mendunia dan menjadi jajaran ikonik, dari hasil
otak-atik otak, budaya pendidikan yang baik dari Belanda. Jadi, sampai kapan otak
kita terus akan dituntun?
***
Tulisan ini untuk mama dan papa. Yang dari semenjak kecil hingga detik ini, mereka
tak pernah membahas otak saya harus ‘menjadi’ dan seperti apa. Tetapi semalam
tadi menelpon, katanya, ‘sukses ya nak, semoga bisa menang.’. Dan otak sayapun menemukan
jalannya.
Sumber gambar:
Studio Job Press Area
Sumber lain:

